Muhammad Fadhli
Jumat, 13 Februari 2026 | 17:39 WIB
BANDUNG | WALIMEDIA.ID - Industri musik Tanah Air kembali diramaikan dengan hadirnya Lomba Nyanyi Nasional bertajuk “Suaramu Jadi Juaranya”. Lomba nyanyi lagu berbahasa Sunda yang digagas oleh label TemanHebat Records bersama BelajarMusiks tersebut berkenaan dengan rilisnya mini album “Sosobatan” milik Aisha Kamila, sekaligus wadah bagi generasi muda untuk menunjukkan bakat terbaik mereka dalam membawakan lagu berbahasa Sunda.
Pendaftaran lomba resmi dibuka
mulai 15 Februari 2026 dan pendaftarannya tidak dipungut biaya alias gratis.
Peserta berusia 5–17 tahun dapat mengirimkan video bernyanyi lagu bebas ke
nomor 081914577088 serta mengikuti akun Instagram @aishakamilasuperkids dan
@lomba.nyanyi, dengan batas akhir pengiriman pada 30 Maret 2026.
Babak Grand Final akan digelar secara live melalui Instagram @lomba.nyanyi pada 5 April 2026. Para finalis wajib membawakan salah satu lagu dari album Sosobatan untuk memperebutkan total hadiah jutaan rupiah dan kesempatan rekaman eksklusif bersama label.
Setelah sukses meluncurkan mini
album Sosobatan, Aisha Kamila kini bersiap menghadirkan video klip resmi yang
memadukan kekayaan budaya Sunda dengan sentuhan modern yang chic dan relevan
bagi generasi masa kini. Video klip tersebut tidak hanya menjadi pelengkap
karya musiknya, tetapi juga dirancang sebagai media promosi budaya yang kuat
secara visual.
Dengan konsep artistik yang
kental nuansa Pasundan namun tetap segar dan stylish, video klip tersebut diharapkan
mampu mempertegas pesan persahabatan dan identitas budaya yang terkandung dalam
mini album tersebut. Perpaduan harmonis antara musik berkualitas dan estetika
budaya Sunda akan menjadi suguhan istimewa yang sayang untuk dilewatkan.
Bagi Aisha Kamila, atau yang
akrab disapa Neng Pasundan, merilis album berbahasa Sunda adalah kebanggaan
yang tak terlukiskan. “Rasa bangganya luar biasa, bahkan sulit diungkapkan
dengan kata-kata. Album ini adalah cara Aisha berkata, ‘Ini saya, Neng Pasundan’,
dan saya bangga dengan jati diri saya,” ungkapnya penuh haru.
Di tengah dominasi lagu berbahasa
Indonesia dan asing, Aisha justru merasa terpanggil untuk menghadirkan warna
berbeda melalui bahasa daerah. Menurutnya, bahasa Sunda memiliki estetika yang
lembut dan indah, serta dapat dikemas secara modern tanpa kehilangan ruh
tradisinya. Melalui Sosobatan, ia ingin membuktikan bahwa lagu daerah tidak
pernah kuno dan tetap relevan di telinga generasi muda.
Lewat ajang Lomba Nyanyi Nasional
Bahasa Sunda, Aisha juga menyampaikan pesan khusus kepada generasi muda agar
tidak pernah merasa malu menggunakan bahasa daerah. “Bahasa daerah adalah
kekayaan yang tidak dimiliki bangsa lain. Kalau bukan kita yang melestarikan
lewat karya, siapa lagi?” ujarnya penuh semangat, mengajak anak-anak muda untuk
tampil percaya diri.
Aisha juga menegaskan bahwa musik
adalah bahasa universal yang mampu menjangkau berbagai kalangan tanpa batas. Ia
berharap gerakan bersama melalui musik dapat membuat budaya Sunda tetap hidup
dan berkembang di tengah arus globalisasi. Baginya, lomba tersebut bukan
sekadar kompetisi, tetapi ajang silaturahmi untuk memperkuat akar budaya di
mana pun berada.
Dukungan penuh juga datang dari
sang ayah, Sendi Setia Permadie, yang merasa terharu melihat putrinya konsisten
membawa identitas Sunda dalam setiap karya. “Di tengah gempuran budaya luar
yang begitu kuat, melihat Aisha membawa misi melestarikan budaya Sunda adalah
sebuah anugerah,” tuturnya bangga.
Sejak kecil, keluarga Aisha memang menanamkan nilai-nilai Sunda dalam kehidupan sehari-hari, baik melalui bahasa maupun sikap. Fondasi tersebutlah yang membentuk Aisha menjadi pribadi modern yang tetap berakar kuat pada budaya asalnya, menjadikan musik sebagai jembatan antara tradisi dan masa depan.