Logo BeritaKini
bolt Terkini
NASIONAL

Berani Sindir Wapres Gibran, Ternyata Inilah Basic Pendidikan Komika Pandji Pragiwaksono

R

Redaksi

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:41 WIB

Berani Sindir Wapres Gibran, Ternyata Inilah Basic Pendidikan Komika Pandji Pragiwaksono


BANDUNG | WALIMEDIA.ID - Komika Pandji Pragiwaksono tengah menjadi perbincangan publik usai menyindir sejumlah tokoh Tanah Air, termasuk Wakil Presiden (wapres) Gibran Rakabuming Raka.


Ia menyindir para tokoh saat tampil dalam acara stand up comedy bertajuk 'Mens Rea' yang tayang di platform Netflix pada 27 Desember 2025 lalu.


Akibat materi roastingan yang di 'tepi jurang', Pandji pun dilaporkan oleh Angkatan Muda Nahdlatul Ulama (NU) ke Polda Metro Jaya.


Laporan tersebut teregister dengan nomor LP/B/166/I/2026/SPKT/POLDA METRO JAYA tertanggal 8 Januari 2026.


Pandji Mahasiswa FSRD ITB


Keberanian komika Pandji dalam menyindir tokoh, ternyata bukan saat stand up comedy saja. Sekitar tahun 1997, saat masih tercatat sebagai mahasiswa di Institut Teknologi Bandung (ITB) ia juga mengkritisi pemerintahan Presiden Soeharto.


Keberanian Pandji ini diungkapkan oleh akun King Purwa di media sosial X atau Twitter pada Rabu (7/1/2026)..


King Purwa mengaku sebagai saksi hidup keberanian seorang mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB Bandung bernama Pandji saat masa awal Reformasi.


Pengakuan King Purwa sebagai balasan postingan politisi Partai Partai Garuda, Teddy Gusnaedi, yang terkesan merendahkan keberanian sosok Pandji dalam hal berpendapat.


Lewat tulisannya, Teddy akan mengakui Pandji sebagai sosok hebat jika keberanian bersuaranya terjadi sebelum masa reformasi 98.


"Kalau sekarang, gak ada hebatnya, karena sudah ada kebebasan, siapa saja boleh bicara bahkan menghina dan memaki, tidak lagi spesial," tulis Teddy lewat akun @TeddGus.


"Coba kalau tahun-tahun itu, bisa jadi pada pegang burung karena ketakutan. Bahkan ada beberapa orang yang saat ini berisik menghina dan memaki pemerintah, adalah para pengecut di zaman reformasi, pada pegang burung semua di rumah." pungkasnya.


Menanggapi cuitan Teddy itu King Purwa@BosPur** menjawab dengan memposting gambar saat Pandji mengenakan kaos bertuliskan "In Harmonia Progressio 100 Tahun ITB".


Tidak hanya foto, King Purwa menyertakan screenshot cuitan Pandji tahun 2020 saat mengungkapkan kesannya menjadi aktivis ITB di media sosial X.


"Ted, jauh sblm 98 pun mahasiswa kampus ITB terkenal sebagai kampus ANTI Soeharto, para aktivisnya bisa dgn lantang orasi di lapangan terbuka "anj***2in Soeharto", "tulis King Purwa.


"@pandji mahasiswa FSRD ITB angkatan 97, dan hampir seluruh mahasiswa fakultas FSRD ITB terlibat aktif menghidupkan aksi gerakan reformasi 98, dgn segala karya teatrikal dll termasuk lambang gerakan reformasi mrk yg ciptakan" sambungnya.


"Gw saksi hidup bahwa dia terlibat dalam gerakan itu!" tandasnya.


Komentar Warganet


Postingan King Purwa tentang sosok Pandji memantik warga jagat maya atau warganet untuk ikut berkomentar. Apalagi ketika Pandji pun ikut mengomentarinya.


"Momen paling gue inget, adalah mencabut spanduk “Selamat datang Wiranto” di JPO dpn BIP (dulu masi ada) tengah malam trus kabur krn deket situ ada tentara ????????," kata Pandji Pragiwaksono lewat akun @pandji.


Berikut komentar warganet yang dikutip pada Jumat (9/1/2026).


"@TeddGus...Dicariin, Ted. Ada saksi hidup yg lihat @pandji ikut aksi 1998. Berarti dia beneran hebat kan kalau pakai kriteria anda? " kata @KuroKaitou


"Indonesia butuh Panjdji2 yang lain agar dapat menyuarakan PANJI2 Kebenaran. Sederhana sekali jika melihat kondisi bangsa ini sedang baik2 atau tdk cukuplah kita melihat kualitas kabinet kita saat ini. Teruslah bersuara Pandji......rakyat sudah muak dg dagelan badut2 politik," komentar akun Media Karya@mediakarya_id.


"Moal apaleun ngadamel spandukna oge ‘dicocol’ tea ning…," timpal Azzam Mujahid Izzulhaq@AzzamIzz****q.


"Gerakan reformasi di ITB diawali dari seorang mahasiswa dari FSRD yang dg berani membaca puisi dg lantang di lapangan basket. Itu momen jauh sebelum menggaung istilah reformasi. Awalnya satu-dua mahasiswa namun kemudian susul menyusul menjadi besar. Amat natural, "kata Prof. Dr. Erma Yulihastin@EYul****in.(red)


Bagikan Berita Ini